CIPTA NUSA

Ketika Semangat dan Kepedulian Sosial Tercermin dalam Sosok Local Hero bernama Marsan Susanto

Di sudut komunitas yang jarang menjadi perhatian publik, setidaknya lebih dari 500 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pernah menemukan kembali ruang untuk hidup dengan lebih layak. Bukan di rumah sakit besar, bukan pula dalam program besar yang penuh sorotan. Di tempat itu, harapan tumbuh dari kepedulian satu orang yang memilih untuk tidak berpaling ketika melihat mereka yang selama ini dimarginalkan. Sosok itu adalah Bapak Marsan, penggagas sekaligus pimpinan Yayasan Al Fajar Berseri.

Dalam perspektif Pekerjaan Sosial, tujuan utama dalam pemberdayaan sosial adalah meningkatkan kesejahteraan manusia serta memperkuat keberfungsian sosial individu dan kelompok, terutama bagi mereka yang rentan dan termarginalisasi. Karena itu, semangat Pekerjaan Sosial tidak hanya tentang bantuan materi, tetapi juga tentang penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan sosial, dan pemberdayaan agar setiap orang memiliki kesempatan menjalani hidup yang lebih bermakna.

Bagi Pak Marsan, kepedulian itu dimulai lebih dari tiga puluh tahun lalu. Ia melihat banyak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) hidup terlantar, dipandang sebagai beban, bahkan dianggap tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupan sosial. Alih-alih menjauh, beliau memilih mendekat. Perlahan, tempat yang ia bangun berkembang menjadi ruang pemulihan bagi ratusan orang. Saat ini sajai, lebih dari 500 ODGJ pernah mendapatkan pendampingan di sana. Angka itu lebih dari sekadar statistik, atau cerminan dari ratusan kehidupan yang berusaha dipulihkan kembali.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Pernah ada masa ketika ratusan ODGJ yang tinggal dan menjalani pemulihan di sana menunggu makanan, sementara donasi yang biasanya datang belum tersedia. Dengan lebih dari 500 orang yang harus dipenuhi kebutuhan dasarnya, situasi seperti itu seakan menjadi ujian komitmen. Bagi Pak Marsan, momen-momen seperti inilah yang menegaskan bahwa merawat kemanusiaan sering kali berarti bertahan di tengah keterbatasan.

Di titik inilah pentingnya pendekatan pemberdayaan masyarakat menjadi semakin jelas. Sosok Pak Marsan, sebagai local hero dalam salah satu program pemberdayaan yang dijalankan oleh Cipta Nusa, menunjukkan bahwa figur yang telah lama bergerak di masyarakat dan diperkuat melalui proses pendampingan yang berkelanjutan akan berdampak pada keberhasilan perubahan sosial yang diharapkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan sosial sering kali berakar dari tokoh-tokoh lokal yang sudah dipercaya oleh komunitasnya sendiri.

Dampaknya kini mulai terlihat. Jika dahulu pemulihan ODGJ lebih berfokus hanya untuk menampung, kini pendekatan di Yayasan Al Fajar Berseri juga mendorong kegiatan produktif seperti mengolah limbah dan memproduksi pupuk kandang. Aktivitas ini membantu melatih motorik, membangun rasa percaya diri, dan membuka kembali ruang peran sosial bagi para ODGJ. Ketika kepedulian individu bertemu dengan pendampingan yang tepat, yang pulih bukan hanya kehidupan seseorang, tetapi juga harapan sebuah komunitas. Seperti yang ditegaskan oleh International Federation of Social Workers, social work is a game changer.

Selamat Hari Pekerjaan Sosial Dunia 2026

Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society

Sumber: 

Rai Jemadila 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *